Sejarawan dan budayawan Sulawesi Selatan, Mattulada, pernah mengingatkan. “Dalam masyarakat Indonesia, pemimpin yang kuat adalah mereka yang tidak hanya punya otoritas struktural, tetapi juga diterima secara kultural oleh komunitasnya.”
Kepemimpinan Bahlil yang tumbuh dari jalanan, dari pinggiran bahkan pernah jadi sopir angkot, dari perjuangan hidup memenuhi syarat itu. Ia bukan hanya “berkuasa”, tapi juga diterima sebagai bagian dari rakyat yang ia wakili. Inilah yang membedakannya dari politik lama yang elitis dan penuh basa basi.
Bahlil adalah jawaban atas kejenuhan publik terhadap politik tua yang usang. Ia simbol dari politik generasi baru, yang tidak melupakan akar, tapi juga tidak takut naik ke panggung nasional.
Kini tantangannya ada di tangan kita semua sebagai rakyat, sebagai manusia yg ber akal dan juga sebagai kader Partai GOLKAR. apakah kita siap mengubah cara kerja atau metodologi partai dari eksklusif menjadi partisipatif? Apakah kita berani mendorong regenerasi sejati, bukan sekadar kosmetik kaderisasi?
Karena seperti kata Koentjaraningrat pula. “Sebuah masyarakat yang tidak mampu memahami kebudayaannya sendiri, akan mudah dikuasai oleh budaya luar yang lebih agresif.”
Begitu pula dengan partai. Jika GOLKAR tidak kembali ke budaya karya kekaryaannya sendiri, maka ia akan tergilas oleh gelombang populisme semu yang hanya menyuarakan kata kata viral tanpa substansi ideologis.
Hari ini kita punya momentum. Kita punya pemimpin. Kita punya peluang. Yang kita butuhkan hanya satu, keberanian untuk berubah.
#SuaraRakyatSuaraGolkar
#GolkarSolidIndonesiaMaju